Selasa, 17 Juni 2014

Perbaiki Dudukmu Kawan

Saat berangkat kerja ke Cikarang ada beberapa lubang jalan yang akan semakin dalam bila hujan mengguyur disitu.

Persoalan timbul justru saat jalan sepi sehingga motor bisa melaju kencang, saat melewati tikungan, lubang tidak kelihatan, dan ban motor terperosok cukup keras tapi berhasil lewat dengan aman.

Namun karena posisi duduk yg salah, pinggang keseleo alias Low Back Pain bahasa medisnya.

Penyakit ini cukup menyakitkan, dari berbaring berdiri sakit pinggang, dari duduk berdiri sakit juga, mau baring sakit juga. Bahkan yang parah tarik nafas dalam juga sakit.

Bila kita perhatikan para pengendara motor, maka akan tampak banyak cara duduk di sadel motor dengan segala gayanya.

Ada yang miring kekiri, ada yang kekanan, ada pula yang duduknya terlalu maju atau kebelakang sekali. Model bebas semau hati pokoknya.

Bagi pemakai motor, tetaplah berhati-hati, usahakan badan tegak dan garis tengah badan letakkan pada garis tengah motor.

Kenapa?

Bila ada hentakan keras, misalnya motor terperosok ke lubang, maka bantalan tulang belakang terlindung oleh peredam kejut (shock breaker) kiri dan kanan.

Mau tahu rasanya pinggang keseleo?

Pakai stagen yang panjangnya 3 meter, didalam stagen bagian tulang punggung taruh sebiji bawang merah, lalu coba berbaring.

Rasanya?

Enak sekali.... He.he.he.....

So,

Rubah gaya duduk Anda diatas sepeda motor, sebelum Anda tidak bisa duduk dengan gaya lagi selama beberapa hari.

Pagi, Sukses n GBU All...

Minggu, 15 Juni 2014

https://www.facebook.com/pages/Komunitas-AYAH-EDY/141694892568287

Photo: MENGINTIP PERBEDAAN SISTEM SEKOLAH DI JEPANG VS DI INDONESIA

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.

Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.

Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.

Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.

Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.

Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.

Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.

Sumber: edukasi.kompasiana.com

Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.

Kuanggap Beliau Ayahku

Saat berangkat kerja dan melewati jalan MT.Haryono, ada sebuah mobil teman yang berhenti. Didepan mobil itu terlihat Bakri sedang berbicara dengan seorang Bapak.

"Tadi waktu jalan aku lihat Bapak ini sedang berdiri bingung di pinggir jalan, Bang. Aku merasa Bapak ini seperti Bapakku jadi aku berhenti. Abang jalan sajalah, biar aku urusin saja beliau"

Setelah berjalan agak jauh, mendadak air mata menggenang.

Kenapa?

Ayah Bakri meninggal saat dia masih dalam kandungan ibunya.

Kerinduan itu dia wujudkan dengan mengurusi acara jalan-jalan beberapa panti jompo. Dia menyediakan mini bus untuk mereka jalan-jalan 3 bulan sekali.

Bakri bukan orang kaya, gaji perbulannya 5 jutaan, namun beberapa usaha sampingannya dia kerjakan dengan serius dan menghasilkan uang yang lumayan banyak.

Uang sampingan itu digunakan untuk membiayai hobbynya mengurusi kakek nenek di panti jompo.

Ada yang hilang dan Anda rindukan dalam hidup ini?

Berikan rasa rindu itu pada mereka yang terlantar dan memerlukan kerinduan Anda.

Banyak yang sangat memerlukan perhatian kita di sekitar kita.

Pagi, Sukses n GBU All...

https://www.facebook.com/ZigZiglar?ref=stream

Photo: "Your attitude not your aptitude will determine your altitude."- Zig Ziglar 
more at Tom Ziglar

Apa Merekmu?

Sangat menarik bila memperhatikan tulisan stiker yang menempel di kendaraan bermotor beberapa orang.

Ada yang sangat membangun, ada yang lucu, ada yang agak menyinggung perasaan, ada yang agak porno seperti yang biasa dituliskan di penahan cipratan air pada roda belakang truk.

Dibelakang sebuah motor dibawah plat motor ada stiker berisi tulisan,

"Buronan Leasing"

Lucu sekali ya?

Bagi sebagian orang,

"Ah itu kan hanya tulisan saja, tidak ada artinya apa-apa.."

Tapi tahukah Anda?

Setiap merek yang Anda tempellkan pada diri Anda akan mempengaruhi perjalanan hidup Anda.

Setiap kata yang Anda ucapkan akan terjadi dalam hidup Anda? Karena,

"Setiap perkataan yang kita ucapkan adalah doa"

Mau contoh pengakuan besar?

"Nasib saya sama seperti lagu-lagu yang saya nyanyikan"
-Dewi Yul-

Jangan sembarangan meletakkan merek pada diri kita atau alat-alat kerja kita, karena kita tidak pernah tahu kapan tulisan baik atau buruk itu terjadi dalam hidup kita.

Hanya stiker saja bisa terjadi dalam hidup kita? Asyik ya?

Kalau suatu saat akan terjadi, kenapa tidak tempelkan stiker yang berisi hal-hal yang baik saja?

"Tidak ada kebaikan yang kan terjadi jika kita melakukan hal yang buruk, begitu juga sebaliknya"

It's your right and decision....

Pagi, Sukses n GBU All...

Sabtu, 14 Juni 2014

https://www.facebook.com/ZigZiglar?ref=stream

Photo: All Change starts with you first!
more at Tom Ziglar

Everybody's Business

Sebuah film buatan Singapura yang menceritakan repotnya mengajari orang Singapura mengurusi toiletnya.

Film ini dibuat sekitar dua puluhan tahun yang lalu, dengan tujuan utama supaya orang Singapura lebih bersih lagi bila menggunakan toilet.

Kenapa?

Apakah orang Singapura terlalu jorok dalam memakai toilet?

Kelihatannya begitu, pada beberapa tempat makan yang kecil disana pada tahun 1990an aroma toilet kadang bisa tercium sampai ke ruangan makan.

Lho, kok bisa?

Mereka punya kebiasaan untuk tidak menyiram kloset sesudah membuang hajat, sementara tidak ada petugas yang menjaga kebersihan di toilet warung pastinya.

Unik ya?

Harapan mereka bila kebiasaan memakai toilet dengan benar ini dilakukan, maka Singapura akan lebih menyenangkan untuk dikunjungi di level apapun.

Lalu?

Pemakaian air akan lebih irit, mengingat proses pemakaian toilet yang benar akan dikendalikan oleh mesin.

Ternyata dibelakangnya ada tujuan yang lebih besar ya?

"Langkah besar bisa dilakukan dengan melakukan langkah kecil berulang-ulang"

Pagi, Sukses n GBU All...