http://ziglarvault.com/
Jumat, 12 Februari 2016
Renungan pagi: KUATIR (Copas Mr. Sule YNK Adam)
Mat 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Bagi Anda yang suka pergi ke tempat fitness pasti tahu bahkan pernah memakai alat yang saya sebut "sepeda diam di tempat". Pembuat alat tersebut merancang sedemikian rupa supaya para pemakai seakan-akan merasakan sedang mengayuh sepeda di jalan yang menurun maupun menanjak.
Pada intinya, setiap orang yang memakai sepeda tersebut bisa berolah raga supaya sehat. Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya kalau kita kuatir kita seperti seorang yang sedang mengendarai "sepeda diam di tempat" ARTINYA JALAN DITEMPAT.
Ketika dihimpit oleh berbagai masalah, kita kuatir, takut dan kondisi negatif itu mendorong kita berjuang sedemikian rupa supaya bisa keluar dari himpitan tersebut.
Kita terus mengayuh "sepeda kehidupan kita" sampai keluar semua kekuatan, tapi tidak sadar bahwa kita sedang diam di tempat. Tuhan Yesus mengajarkan pada orang banyak pada waktu itu ada di bukit juga bahwa tidak perlu kuatir. Demikian juga hal itu diajarkan pada kita sekarang.
Kuatir tidak memberikan sedikitpun jalan keluar bagi kita ketika menghadapi masalah. Kuatir justru menambahkan banyak penyakit dalam diri kita karena jiwa yang tertekan.
Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
So, saat ada kekuatiran, mari kita datang ke kaki Tuhan , tetap bersyukur , minta kekuatan dariNya, supaya kita di mampukan, dan tetap mengandalkan-Nya.
Selamat pagi
Selamat beraktifitas
Tuhan Yesus Memberkati
"Roti Panggang Gosong"
"Ketika saya masih kecil, Ibu suka membuat sarapan dan makan malam. Suatu malam, setelah ibu bekerja keras sepanjang hari, ibu menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah.
Saat itu saya menunggu apa reaksi dari orang-orang di situ....Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya!
Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan..“Sayang, jangan khawatir...aku suka roti panggang yang gosong.”
Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ucapan selamat tidur pada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong. Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, “Nak, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah.
Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun!”
Tahu kah kamu apa yang menyakiti hati seseorang?..."kata kata kasar..."
Lalu ayah melanjutkan, "Kamu tahu, hidup itu penuh dengan hal-hal dan orang-orang yang tidak sempurna. Ayah juga bukan orang yang terbaik dalam segala hal, kadang lupa ulang tahun ibumu, ulang tahun pernikahan, dan lain-lain sama seperti orang lainnya.
Yang ayah pelajari adalah menerima kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan.
Ini adalah kunci terpenting untuk mewujudkan hubungan yang sehat dan harmonis.
Hidup itu terlalu pendek untuk diisi dengan penyesalan dan kebencian...
Cintai mereka yang memperlakukanmu dengan baik dan sayangi mereka.
semoga bermanfaat .
Saat itu saya menunggu apa reaksi dari orang-orang di situ....Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya!
Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan..“Sayang, jangan khawatir...aku suka roti panggang yang gosong.”
Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ucapan selamat tidur pada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong. Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, “Nak, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah.
Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun!”
Tahu kah kamu apa yang menyakiti hati seseorang?..."kata kata kasar..."
Lalu ayah melanjutkan, "Kamu tahu, hidup itu penuh dengan hal-hal dan orang-orang yang tidak sempurna. Ayah juga bukan orang yang terbaik dalam segala hal, kadang lupa ulang tahun ibumu, ulang tahun pernikahan, dan lain-lain sama seperti orang lainnya.
Yang ayah pelajari adalah menerima kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan.
Ini adalah kunci terpenting untuk mewujudkan hubungan yang sehat dan harmonis.
Hidup itu terlalu pendek untuk diisi dengan penyesalan dan kebencian...
Cintai mereka yang memperlakukanmu dengan baik dan sayangi mereka.
semoga bermanfaat .
Orang Madura Jual Mangga
Pada suatu siang, seorang dokter spesialis, masih dengan jas putihnya, keluar untuk makan siang ke sebuah kedai di samping rumah sakit. Setelah selesai makan, dia tertarik dengan mangga yang dijajakan di samping pintu gerbang rumah sakit.
“Ini mangga apa, Pak?” tanyanya pada penjual mangga yang orang Madura.
“Kalo yang ini mangga Gadung, Pak. Ini masak pohon, manis.”
“Berapa sekilo?”
“Gadung lima rebu..
“Kalo yang ini apa?” tanya dia menunjuk sebuah mangga yang lebih kecil.
“Ini Manalagi. Asli, masak pohon juga. Sekilo tujuh rebu...
“Hmmm, lain kali aja ya Pak,” kata sang dokter sambil membalikkan badan beranjak hendak pergi.
"Boabboo, sebentar, Pak!” Seru sang penjual.
“Ada apa?” tanya sang dokter.
“Bayar dulu Lima rebu Pak!”
“Lho, Saya ‘kan nggak beli!” Protes sang dokter.
“Iya, Sampian nggak beli, tapi ‘kan tanya-tanya harga!” Jawab sang penjual santai.
“Lho, memang tanya aja bayar?” protes sang dokter.
“Boabboo mak deiye. Saya dulu priksa ke Sampian, cuma tanya-tanya. Sampiyan minta bayaran lima puluh rebu...
Sekarang sy cuma minta lima rebu..
Lebih murah.. Kok sampiyan protes.???"
Langganan:
Postingan (Atom)